Tawuran mahasiswa
adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian
tersebut dilakukan oleh banyak mahasiswa yang terikat oleh perguruan tinggi. Penyebab
utama tawuran adalah hal-hal sepele yang dibawah ke hal-hal yang serius
sehingga terjadilah yang namanya tawuran. Menurut Claudia dalam Iftitah (2011) menyatakan
bahwa masalah sepele atau biasa saja disebabkan oleh hal-hal serius yang
menjurus pada tindakan bentrok dan ada juga faktor-faktornya yang terdiri dari
faktor internal dan eksternal.
Faktor internal ini terjadi di dalam diri individu itu sendiri yang
berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan
permasalahan di sekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Mahasiswa
yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan
lingkungan yang kompleks. Para mahasiswa yang mengalami hal ini akan lebih
tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu
apakah akibat yang akan ditimbulkan.
Faktor eksternal yaitu
faktor keluarga, jika seorang mahasiswa sering melihat kekerasan di antara
orang tuanya, hubungan yang kurang harmonis menyebabkan seorang mahasiswa dapat
terganggu psikologisnya. Yang kedua adalah faktor kampus, kampus juga dapat
menjadi wadah yang kurang baik bagi mahasiswa karena hilangnya kualitas
pengajaran seperti seorang dosen yang melakukan kekerasan terhadap mahasiswanya.
Dan yang ketiga adalah faktor lingkungan, misalnya seorang mahasiswa yang
terpengaruh dengan mahasiswa yang suka tawuran tentu itu akan berdampak buruk
bagi dirinya.
Sebagai insan yang
berada di lembaga pendidikan, apalagi Universitas Negeri Makassar yang pada
umumnya adalah orang yang berpendidikan. Menghadapi mahasiswa yang sering
tawuran sudah merupakan hal yang biasa kita jumpai di Universitas Negeri
Makassar. Mulai dari lempar-lemparan batu, anak panah, perkelahian, bahkan
sampai pembunuhan. Hal-hal tersebut memang sangat menguji kesabaran kita.
Dibutuhkan kesabaran dan keuletan yang tinggi.
Tragisnya kampus ini, bukannya
prestasi yang ada dipemberitaan media-media, akan tetapi tawuran mahasiswa dari antar fakultas,
ini tentu dapat berdampak negatif terhadap kampus, bahkan hampir semua kalangan
masyarakat mengetahui kampus UNM sangat sering terjadi yang namanya tawuran
antar mahasiswa.
Penulis menganggap ada
sedikit kata wajar kalau seandainya pertikaian terjadi antar desa, dusun, ataupun
antar suku karena sebagian besar dari mereka adalah orang awam yang kurang
berpendidikan dan lebih mudah terprovokasi. Sedangkan mahasiswa yang berada di
kalangan orang yang berpendidikan itu merupakan hal yang ironi jika terjadi di
kalangan kita.
Di kampus kita
diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan seperti ilmu agama, pancasila, dan
beberapa mata pelajaran sosial lainnya yang saya rasa jika kita amalkan, tidak
akan pernah ada istilah yang namanya tawuran
mahasiswa. Terus, apa yang salah dengan pola pendidikan kita? Apa yang
salah dengan linkungan kita? Sehingga seakan semua ilmu yang kita timba di perguruan
tinggi seperti hilang tak berbekas atau apakah pendidik yang menjadi panutan mahasiswa
doyan tawuran juga?
Beberapa
tips di bawah mudah-mudahan dapat mencegah diri ikut tawuran.
1. Membekali diri dengan pengetahuan agama sebanyak-banyaknya. Di kampus
memang mahasiswa diajarkan juga pelajaran agama, tapi paling lama hanya satu
semester, belum dibareng dengan aktivitas-aktivitas lainnya, dan juga pelajaran
agama kampus lebih terfokus ke nilai akhir ketika ujian. mungkin karna faktor
inilah kurangnya kesadaran beragama para mahasiswa yang membuat para pelajar
tidak punya pegangan untuk bisa menahan diri dalam pergaulan antar mahasiswa.
Ini juga bisa menjadi pesan untuk orang tua untuk tidak hanya mengarahkan
anak-anaknya untuk berprestasi saja, akan tetapi harus diimbangi dengan yang
namanya prestasi ahlak dan budi pekerti dengan mengarahkan anak anak mereka untuk
belajar agama. Disamping itu perlu juga
penambahan jam pelajaran keagamaan baik diluar kuliah maupun di tempat kuliah.
Dengan penambahan jam pelajaran agama ini mahasiswa akan diajak untuk lebih
memahami bahwa pertengkaran, perkelahian atau tawuran itu tidak ada manfaatnya
sama sekali, yang ada hanya kerusakan dan bahkan kematian.
2. Hindari kumpul-kumpul
yang bersifat negatif ketika pulang kampus.
Kumpul-kumpul ketika pulang kampus sering menjadi pemicu awal terjadinya tawuran.
Jika suatu kelompok mahasiswa bertemu dengan kelompok mahasiswa yang lainnya,
rentan sekali terjadi gesekan gesekan yang bisa memicu tawuran antar mahasiswa.
3. Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat
seperti olahraga atau penelitian yang bermanfaat bagi mahasiswa. Sehingga tidak
terpikirkan keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji.
4. Jangan mudah terprovokasi. teliti,
cermati dan gali setiap informasi yang kita dengar, dan kita lihat, sebelum
mengambil tindakan terhadap permasalahan tersebut.
5. Menjalin silaturahmi antar fakultas, bisa dengan cara mengadakan
pertandingan-pertandingan olahraga antar fakultas. tapi menjadi catatan, sangat
tidak di anjurkan melakukan pertandingan antar fakultas untuk olahraga yang
bersentuhan secara langsung dengan para pemainnya, seperti sepakbola contohnya,
bisa berawal dari cidera pemain yang tersenggol pemain lawan, timbul ras dendam
dalam diri mahasiswa untuk melanjutkan pertandingan tersebut ke arena tawuran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar