Minggu, 31 Mei 2015

PROTEKSI DIRI IKUT TAWURAN


Tawuran mahasiswa adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh banyak mahasiswa yang terikat oleh perguruan tinggi. Penyebab utama tawuran adalah hal-hal sepele yang dibawah ke hal-hal yang serius sehingga terjadilah yang namanya tawuran. Menurut Claudia dalam Iftitah (2011) menyatakan bahwa masalah sepele atau biasa saja disebabkan oleh hal-hal serius yang menjurus pada tindakan bentrok dan ada juga faktor-faktornya yang terdiri dari faktor internal dan eksternal.
Faktor internal ini terjadi di dalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan di sekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Mahasiswa yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Para mahasiswa yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat yang akan ditimbulkan.
Faktor eksternal yaitu faktor keluarga, jika seorang mahasiswa sering melihat kekerasan di antara orang tuanya, hubungan yang kurang harmonis menyebabkan seorang mahasiswa dapat terganggu psikologisnya. Yang kedua adalah faktor kampus, kampus juga dapat menjadi wadah yang kurang baik bagi mahasiswa karena hilangnya kualitas pengajaran seperti seorang dosen yang melakukan kekerasan terhadap mahasiswanya. Dan yang ketiga adalah faktor lingkungan, misalnya seorang mahasiswa yang terpengaruh dengan mahasiswa yang suka tawuran tentu itu akan berdampak buruk bagi dirinya.
Sebagai insan yang berada di lembaga pendidikan, apalagi Universitas Negeri Makassar yang pada umumnya adalah orang yang berpendidikan. Menghadapi mahasiswa yang sering tawuran sudah merupakan hal yang biasa kita jumpai di Universitas Negeri Makassar. Mulai dari lempar-lemparan batu, anak panah, perkelahian, bahkan sampai pembunuhan. Hal-hal tersebut memang sangat menguji kesabaran kita. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan yang tinggi.
Tragisnya kampus ini, bukannya prestasi yang ada dipemberitaan media-media, akan tetapi tawuran mahasiswa dari antar fakultas, ini tentu dapat berdampak negatif terhadap kampus, bahkan hampir semua kalangan masyarakat mengetahui kampus UNM sangat sering terjadi yang namanya tawuran antar mahasiswa.
Penulis menganggap ada sedikit kata wajar kalau seandainya pertikaian terjadi antar desa, dusun, ataupun antar suku karena sebagian besar dari mereka adalah orang awam yang kurang berpendidikan dan lebih mudah terprovokasi. Sedangkan mahasiswa yang berada di kalangan orang yang berpendidikan itu merupakan hal yang ironi jika terjadi di kalangan kita.
Di kampus kita diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan seperti ilmu agama, pancasila, dan beberapa mata pelajaran sosial lainnya yang saya rasa jika kita amalkan, tidak akan pernah ada istilah yang namanya tawuran mahasiswa. Terus, apa yang salah dengan pola pendidikan kita? Apa yang salah dengan linkungan kita? Sehingga seakan semua ilmu yang kita timba di perguruan tinggi seperti hilang tak berbekas atau apakah pendidik yang menjadi panutan mahasiswa doyan tawuran juga?
Beberapa tips di bawah mudah-mudahan dapat mencegah diri ikut tawuran.
1.  Membekali diri dengan pengetahuan agama sebanyak-banyaknya. Di kampus memang mahasiswa diajarkan juga pelajaran agama, tapi paling lama hanya satu semester, belum dibareng dengan aktivitas-aktivitas lainnya, dan juga pelajaran agama kampus lebih terfokus ke nilai akhir ketika ujian. mungkin karna faktor inilah kurangnya kesadaran beragama para mahasiswa yang membuat para pelajar tidak punya pegangan untuk bisa menahan diri dalam pergaulan antar mahasiswa. Ini juga bisa menjadi pesan untuk orang tua untuk tidak hanya mengarahkan anak-anaknya untuk berprestasi saja, akan tetapi harus diimbangi dengan yang namanya prestasi ahlak dan budi pekerti dengan mengarahkan anak anak mereka untuk belajar agama. Disamping itu  perlu juga penambahan jam pelajaran keagamaan baik diluar kuliah maupun di tempat kuliah. Dengan penambahan jam pelajaran agama ini mahasiswa akan diajak untuk lebih memahami bahwa pertengkaran, perkelahian atau tawuran itu tidak ada manfaatnya sama sekali, yang ada hanya kerusakan dan bahkan kematian.
2. Hindari kumpul-kumpul yang bersifat negatif ketika pulang kampus. Kumpul-kumpul ketika pulang kampus sering menjadi pemicu awal terjadinya tawuran. Jika suatu kelompok mahasiswa bertemu dengan kelompok mahasiswa yang lainnya, rentan sekali terjadi gesekan gesekan yang bisa memicu tawuran antar mahasiswa.
3.  Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat seperti olahraga atau penelitian yang bermanfaat bagi mahasiswa. Sehingga tidak terpikirkan keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji.
4.  Jangan mudah terprovokasi. teliti, cermati dan gali setiap informasi yang kita dengar, dan kita lihat, sebelum mengambil tindakan terhadap permasalahan tersebut.
5.  Menjalin silaturahmi antar fakultas, bisa dengan cara mengadakan pertandingan-pertandingan olahraga antar fakultas. tapi menjadi catatan, sangat tidak di anjurkan melakukan pertandingan antar fakultas untuk olahraga yang bersentuhan secara langsung dengan para pemainnya, seperti sepakbola contohnya, bisa berawal dari cidera pemain yang tersenggol pemain lawan, timbul ras dendam dalam diri mahasiswa untuk melanjutkan pertandingan tersebut ke arena tawuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar